hijab
Sistem Keuangan Partai Yang Bermasalah Dan Tidak Transparan Celah Terjadinya Korupsi

Sistem Keuangan Partai Yang Bermasalah Dan Tidak Transparan Celah Terjadinya Korupsi

9 Okt 2019
18x
Ditulis oleh : Admin

Sistem Keuangan Partai Yang Bermasalah Dan Tidak Transparan Celah Terjadinya Korupsi - Mengapa korupsi di negara ini tidak pernah ada akhirnya? Dan mengapa sebagian besar praktik korupsi dilakukan oleh pejabat publik politisi partai politik? Mari kita lihat data lima tahun ke belakang. Indonesia Corruption Watch (ICW) pernah merilis hasil monitoring kasus korupsi di Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 2014 – 2019. Sebanyak 22 anggota Dewan ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas tuduhan korupsi yang berbeda-beda. Di tingkat eksekutif daerah pada periode yang sama tercatat 105 kasus korupsi dengan 90 diantaranya melibatkan bupati dan walikota, sedangkan 15 sisanya melibatkan gubernur. Catatan itu akan semakin panjang apabila kita cari lebih jauh sejak awal bergulirnya reformasi.

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami korupsi. Ada yang melihatnya dalam perspektif moral yang diyakini sebagian besar masyarakat kita. Sedangkan para akademisi menawarkan ragam sudut pandang yang melampaui batas-batas moralitas, mulai dari budaya, ekonomi, maupun sistem.

Masalah korupsi di Indonesia yang melibatkan politisi partai didalamnya, cenderung disebabkan oleh masalah demokrasi dan kepartaiannya. Pembahasan tentang korupsi dilihat dari sudut pandang yang agak kurang lazim di mata umum, yaitu pendekatan keuangan partai politik.

Mengapa keuangan partai? Roda organisasi partai harus terus bergerak agar tetap eksis di masyarakat. Ini tergantung pada bagaimana partai memenuhi kebutuhan belanja mulai dari operasional harian, unjuk publik, konsolidasi dan yang paling penting adalah kampanye di masa pemilu. Karena semua kebutuhan itu butuh biaya baik berupa uang atau barang dalam jumlah yang cukup banyak.

Didik Supriyanti, dkk dalam bukunya Anomali Keuangan Partai Politik menyebutkan bahwa rata-rata kebutuhan operasional harian partai mencapai Rp 50 milyar dalam setahun. Belum termasuk penyelenggaraan kegiatan seperti ajang unjuk publik partai, rapat, konsolidasi yang setiap tahunnya menelam biaya milyaran secara tersendiri.

Belanja kampanye untuk pemilu lebih besar lagi. Dalam laporan komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk pemilu 2014, biaya kampanye yang ditanggung partai Rp 200 sampai 300 milyar. Dan kandidat yang diusung partai masih harus merogoh kocek pribadi untuk membiayai kampanyenya. Bahkan, terkadang jumlahnya lebih banyak dari yang diberikan oleh partai pengusung. Sebenarnya dalam Undang-Undang Partai Politik, disebutkan ada tiga sumber biaya yang legal yaitu iuran anggota, sumbangan dan subsidi negara. Dua sumber pertama bermasalah, sedangkan yang ketiga adalah satu-satunya sumber pembiayaan yang bisa dikontrol. Dan dari sini akan mendapati konsep ‘uang mahar’, karena biasanya kandidat harus membeli partai untuk meraih dukungan ketika pemilu. Dalam sistem demokrasi kita, hampir mustahil bagi seseorang dapat menjadi pejabat publik tanpa dukungan partai. Jelas ini menjadi sumber pembiayaan yang menyenangkan bagi partai, terutama untuk digunakan kembali pada masa kampanye pemilu.

Hampir semua partai tidak menjalankan iuran, dan jika ada, jumlahnya hanya sedikit. Di sisi lain, sumbangan dari perorangan dan perusahaan juga sering tidak jelas asal-usulnya. Sebagai contoh Partai Demokrat, mereka pernah melaporkan total sumbangan perorangan dan perusahaan di tahun 2005 hanya Rp 4 miliar. Angka ini jauh dari cukup jika dibandingkan dengan, katakanlah, biaya operasional (daily activities) Partai Demokrat di tahun yang sama yaitu sebesar Rp 24 miliar.

Dari mana sisa kebutuhan itu dipenuhi di saat mekanisme iuran anggota hampir tidak berjalan? Perlu diingat, bahwa di tahun itu, jumlah bantuan keuangan dari negara untuk partai politik masih terlalu kecil. Jumlahnya hanya Rp 21 juta per perolehan kursi di legislatif pusat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 2005.

Beruntung, sumber pembiayaan dari subsidi negara telah meningkat sepuluh kali lipat sejak Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 (PP 1/2018). Sekarang, setiap partai politik yang memiliki kursi di DPR RI akan mendapatkan bantuan Rp 1000 per suara sah, sedangkan Rp 1.200 untuk DPRD provinsi, dan Rp 1.500 untuk DPRD kabupaten/kota. Sejauh ini, hanya sumber pembiayaan partai politik dari subsidi negara yang dapat dikontrol dengan ketat. Partai politik secara berkala diwajibkan untuk melaporkan penggunaan dana subsidi tersebut kepada negara.

Celah untuk menyalahgunakan dana bantuan negara ini bisa dikatakan hampir tidak mungkin. Dana Gelap Partai dan Koneksi Personal Meningkatnya subsidi dari negara tidak serta-merta mengatasi problem keuangan partai. Kita masih bisa menemukan sumber pembiayaan gelap yang tidak jelas asal-usulnya. Marcus Mietzner (2007) dalam artikelnya yang berjudul, “Party financing in post-Soeharto Indonesia,” menunjukkan satu temuan menarik. Dalam sebuah wawancara, seorang bendahara partai ‘X’ mengaku tidak tahu-menahu dari mana sumber dana yang diperoleh partainya secara utuh. Lebih lanjut lagi, ia mengatakan bahwa semua itu dilakukan secara informal melalui koneksi dekat aktor partai -terutama elite- dengan individu atau pengusaha tertentu.

Temuan hasil riset mengenai pembiayaan informal partai tahun 2017 lalu juga selaras dengan pernyataan Mietzner di atas. Dalam sebuah wawancara dengan kader partai ‘Y’, ia menyebut bahwa koneksi personal elite partai dengan beberapa pengusaha juga ternyata bisa dibentuk lewat kedekatan spiritualitas. Ada semacam hubungan antara guru agama dan muridnya, di mana para murid ini bisa terdorong untuk menyalurkan donasinya melalui sang guru untuk kepentingan partai.

Dana gelap yang diperoleh melalui koneksi personal kader partai secara informal memang sangat sulit dilacak. Kita tidak bisa mengetahui besarannya secara pasti, termasuk digunakan untuk apa dana tersebut. Perangkat aturan yang terangkum dalam UU Partai Politik dan UU Pemilu tidak bisa menyentuh sisi ini.
 

Berita Terkait
Baca Juga:
Tips Agar Hasil Foto Menarik

Tips Agar Hasil Foto Menarik

Tips      

27 Nov 2018 | 228


Pastinya ingin kelihatan menarik saat berfoto agar mendapatkan hasil foto yang keren. Entah itu hanya sekedar untuk eksis di media sosial ataupun mengabadikan kenangan membuat kita ...

Sistem Keuangan Partai Yang Bermasalah Dan Tidak Transparan Celah Terjadinya Korupsi

Sistem Keuangan Partai Yang Bermasalah Dan Tidak Transparan Celah Terjadinya Korupsi

Politik      

9 Okt 2019 | 18


Sistem Keuangan Partai Yang Bermasalah Dan Tidak Transparan Celah Terjadinya Korupsi - Mengapa korupsi di negara ini tidak pernah ada akhirnya? Dan mengapa sebagian besar praktik ...

Bahan-Bahan Tradisional Yang Berguna Untuk Mempercantik Kulit

Bahan-Bahan Tradisional Yang Berguna Untuk Mempercantik Kulit

Kecantikan      

31 Des 2018 | 364


Mau kulit bersih dan cantik alami? Sudah sejak zaman dahulu rempah-rempah digunakan untuk bumbu masak dan menghangatkan tubuh. Namun ternyata tidak hanya digunakan untuk itu saja karena ...

Etika Politik dalam Pandangan Islam

Etika Politik dalam Pandangan Islam

Politik      

30 Nov 2018 | 256


Politik bila diartikan secara umum adalah pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang berwujud pada proses keputusan. Dan bila politik ditinjau dari kepentingan penggunanya ...

Manfaat Mode Pesawat Pada Gadget Yang Jarang Diketahui

Manfaat Mode Pesawat Pada Gadget Yang Jarang Diketahui

Gadget      

3 Okt 2019 | 19


Manfaat Mode Pesawat Pada Gadget Yang Jarang Diketahui - Mode pesawat biasanya digunakan sewaktu berada di dalam pesawat. Pada saat penerbangan, mode pesawat menjadi sangat penting. ...

Beragam Prospek Kerja Untuk Lulusan Kuliah Jurusan Agribisnis

Beragam Prospek Kerja Untuk Lulusan Kuliah Jurusan Agribisnis

Tips      

24 Jun 2019 | 161


Beragam Prospek Kerja Untuk Lulusan Kuliah Jurusan Agribisnis - Pertanian sering kali menjadi jurusan dalam ilmu pendidikan yang kurang populer di mata remaja masa kini, berbeda dengan ...

Copyright © KerjaSendiri.com 2018 - All rights reserved